Ketika Gelap berubah temaram seiring menyejuknya kebekuan kalbu. Saat dimana rasa berhasil bernegosiasi dengan karsa, sebagai residu dari sebuah kontemplasi. Saat dimana rasa mengukuhkan stagnansinya sbg elemen terpenting dari seorang manusia. Menyingkap sebuah kebenaran yang serasa tak nyata. Sebab kebenaran diukur oleh Skeptisisme dengan tak ada satupun ukuran mengenai kebenaran. Dogmatisme menggigihkan kebenaran secara mutlak. Idealisme dan Realisme berpendirian di tengah. Pragmatisme berusaha menyatakan kebenaran sebagai pembantu penyelesaian masalah dan sebagai prediksi pengalaman-pengalaman. Semua mahkluk adalah perwujudan dari kebenaran. Sebatang pohon di masa lalu, sekarang telah menjadi sebuah meja, dan akan menjadi kayu bakar di masa mendatang. Itulah hidup adalah sementara, semua hal selalu berubah-ubah.
Selagi aku berwujud manusia, ada sebuah dogma sejati bahwa setelah mati, hidup yang telah aku lalui akan menentukan kemana aku akan pergi. Surga sejatinya adalah simbol perwujudan nyata dari ego tiap manusia. Tak ada yang akan menolaknya, tapi kadang tak pernah terpikir olehnya manusia bagaimana beroleh kesana. Dan Neraka, selamanya akan menjadi momok terbesar bagi manusia, namun olehnya manusia tetap berinvestasi implisit untuk menetap disana. Sebuah Paradoks sebuah Dogma.
Ada keyakinan pada diriku, meski aku telah mati, aku akan terus hidup setelah kematianku. Jari-jari kebersamaan yang telah tersentuh akan terus dibayangi waktu untuk perpisahan terakhir, tidak karena mereka yang telah menjadi titik ke-tiga dalam garis-garis yang terus menyudutkan, tidak karena mereka yang telah membatu tanpa dimintakan, tapi karena pikiran yang telah berpikir dan perasaan yang telah merasakan waktu. Tapi, titik penghubung pada titik-titik diantara kamu dan mereka dalam
titik pusat waktu. Sebelum tanah menguburkan tapak peninggalan. Sebelum angin menyapu hilang jejak perjalanan.
Bersama dengan lembutnya kepasrahan, hanyalah untuk barpikir dan merasakan atas apa yang telah sedang aku alami tentang kamu dan mereka. Walau, pikiran dan perasaan dari aku takkan pernah kamu dan mereka alami sama. Pikiran dan perasaan adalah jiwa yang selalu bisu untuk sebuah kemunafikan. Dan kata-kata yang telah terucap selalu akan sia-sia untuk sebuah permohonan.
Hanya tulisan-tulisan yang tertulis sebagai saksi sebuah ke-akuan dari seorang aku pada jari-jari keinginan kehidupan yang selalu berpasangan lawan. Bukanlah kehendak aku untuk sebuah pengakuan dari kamu dan mereka, dalam segi-tiga yang selalu saling menyudutkan satu dengan yang lainnya. Dan bukanlah pembelaan dari aku yang telah tersudut, melainkan sebuah ketidak-berdayaan diri dari aku pada waktu. Yang menjadi akhir – Sekarang, adalah awal atau akhir dari perjalanan yang saling
membutuhkan di antara air pengetahuan, api cinta, angin nafas kehidupan dan tanah yang melahirkan, dalam suatu perbedaan dan persamaan di dalam waktu dan dimensi. Adalah hidup atau matinya suatu kehidupan. Adalah keputusan dari sebuah prophecy
tentang kebenaran atau kesalahannya dalam sejarah. Adalah yang memisahkan atau yang menyatukan suatu kebersamaan. Adalah yang menciptakan atau yang menghancurkan suatu ciptaan. Adalah salah satu pilihan dari dua pilihan yang saling berlawanan untuk diputuskan baik atau buruk dan benar atau salah.
Sekaranglah yang hanya dapat aku berikan untukmu dalam pikiran dan perasaan, dalam mendengarkan perasaan dan pikiran yang berkata dengan merasakan nafas-nafas yang berhembus bersama dentuman detak jantung di dalam gelapnya pikiran dan perasaan, hanya demi bayangan sebuah senyuman meski tetesan darah pengorbanan tak mampu menggantikan, dan hanya menambah air mata untuk meneteskan permohonan.
Kebebasanmu tidak dapat aku mohonkan untuk terima kasihku yang telah menjadi cermin dari diriku. Tanpa bayanganmu, aku tak bisa membayangkan diri aku tersenyum melihat keluarga dan saudaraku tersenyum, melihat teman dan sahabatku tersenyum, melihat
tanah kelahiranku tersenyum, melihat semua manusia tersenyum dan melihat bumiku tersenyum. Dan satu senyumpun dapat mendinginkan suhu api berkobar.
Sayap-sayap kebebasan telah kamu kepakkan sayapnya. Menyambut uluran tangan kehangatan malaikat waktu untuk meninggalkan kerinduan pada sebuah senyuman. Dan sebuah harapan yang menghias malam yang tertinggalkan dalam benar dan salah, dan bukanlah sebuah lebih.
Terpisahnya dirimu tidak merupakan terpisahnya namamu dari pikiran dan perasaan aku. Hanya waktu yang telah menjadikan semuanya bagi pikiran dan perasaan dalam kerinduan yang telah berlalu, sedang berlalu dan yang akan berlalu. Dan jika waktu sudah menarik kembali nafas-nafasmu yang telah memberikan kesetiaanmu terhadap dirinya dan diri-Nya. Pikiranmu yang melihat keberadaanku dan perasaanmu yang mengerti keadaanku, akan tetap kamu lihat penampakan dirimu dari mataku. Akan tetap aku dengarkan suara kata-katamu dari telingaku, akan tetap aku pikirkan keberadaanmu dalam pikiranku dan akan tetap kurasakan sentuhan-sentuhanmu dalam perasaanku. Meski engkau telah pergi, engkau akan tetap hidup dalam kehidupanku seperti hal-nya yang telah engkau alami semua tentangku – di mana engkau telah menjadi bagian dari aku, dan aku akan telah menjadi bagian dari engkau.
Hipotesis dari sebuah perenungan..
Dedicated to:
Dra. Rosita Elisabeth D. Tampubolon (1956 - 2006), Rest in Peace plz..