F.u.c.k

November 2nd, 2008 by cybercrime-lovers

Perhaps one of the most interesting words in the English language today, is the word fuck. Out of all the English words that begin with the letter ‘f’ …fuck is the only word referred to as ‘the f word… It’s the one magical word. Just by its sound can describe pain, pleasure, hate and love.

Fuck, as most words in the English language is derived from German …the word fuieken, which means to strike.

In English, fuck falls into many grammatical categories:

As a transitive verb for instance.. John fucked Shirley.
As an intransitive verb… Shirley fucks.

Its meaning is not always sexual, it can be used as…

An adjective such as… John’s doing all the fucking work.
As part of an adverb… Shirley talks too fucking much.
As an adverb enhancing an adjective… Shirley is fucking beautiful.
As a noun… I don’t give a fuck.
As part of a word… absofuckinglutely -or- infuckingcredible.
And as almost every word in a sentence… Fuck the fucking fuckers.

As you must realize, there aren’t too many words with the versatility of fuck…such as these examples describing situations such as:

Fraud:  I got fucked at the used car lot.
Dismay: ahhh fuck it.
Trouble: I guess I’m really fucked now.
Aggression: Don’t fuck with me buddy.
Difficulty: I don’t understand this fucking question.
Inquiry: Who the fuck was that?
Dissatisfaction: I don’t like what the fuck is going on here.
Incompetence: He’s a fuck-off.
Dismissal: Why don’t you go outside and play hide and go fuck yourself…

I’m sure you can think of many more examples.

With all these multi-purpose applications, how can anyone be offended when you use the word. We say use this unique, flexible word more often in your daily speech.

It will identify the quality of your character immediately.

Say it loudly and proudly: FUCK YOU!

[silent stagnation]

December 8th, 2006 by cybercrime-lovers

Ketika Gelap berubah temaram seiring menyejuknya kebekuan kalbu. Saat dimana rasa berhasil bernegosiasi dengan karsa, sebagai residu dari sebuah kontemplasi. Saat dimana rasa mengukuhkan stagnansinya sbg elemen terpenting dari seorang manusia. Menyingkap sebuah kebenaran yang serasa tak nyata. Sebab kebenaran diukur oleh Skeptisisme dengan tak ada satupun ukuran mengenai kebenaran. Dogmatisme menggigihkan kebenaran secara mutlak. Idealisme dan Realisme berpendirian di tengah. Pragmatisme berusaha menyatakan kebenaran sebagai pembantu penyelesaian masalah dan sebagai prediksi pengalaman-pengalaman. Semua mahkluk adalah perwujudan dari kebenaran. Sebatang pohon di masa lalu, sekarang telah menjadi sebuah meja, dan akan menjadi kayu bakar di masa mendatang. Itulah hidup adalah sementara, semua hal selalu berubah-ubah.

Selagi aku berwujud manusia, ada sebuah dogma sejati bahwa setelah mati, hidup yang telah aku lalui akan menentukan kemana aku akan pergi. Surga sejatinya adalah simbol perwujudan nyata dari ego tiap manusia. Tak ada yang akan menolaknya, tapi kadang tak pernah terpikir olehnya manusia bagaimana beroleh kesana. Dan Neraka, selamanya akan menjadi momok terbesar bagi manusia, namun olehnya manusia tetap berinvestasi implisit untuk menetap disana. Sebuah Paradoks sebuah Dogma.

Ada keyakinan pada diriku, meski aku telah mati, aku akan terus hidup setelah kematianku. Jari-jari kebersamaan yang telah tersentuh akan terus dibayangi waktu untuk perpisahan terakhir, tidak karena mereka yang telah menjadi titik ke-tiga dalam garis-garis yang terus menyudutkan, tidak karena mereka yang telah membatu tanpa dimintakan, tapi karena pikiran yang telah berpikir dan perasaan yang telah merasakan waktu. Tapi, titik penghubung pada titik-titik diantara kamu dan mereka dalam
titik pusat waktu. Sebelum tanah menguburkan tapak peninggalan. Sebelum angin menyapu hilang jejak perjalanan.

Bersama dengan lembutnya kepasrahan, hanyalah untuk barpikir dan merasakan atas apa yang telah sedang aku alami tentang kamu dan mereka. Walau, pikiran dan perasaan dari aku takkan pernah kamu dan mereka alami sama. Pikiran dan perasaan adalah jiwa yang selalu bisu untuk sebuah kemunafikan. Dan kata-kata yang telah terucap selalu akan sia-sia untuk sebuah permohonan.

Hanya tulisan-tulisan yang tertulis sebagai saksi sebuah ke-akuan dari seorang aku pada jari-jari keinginan kehidupan yang selalu berpasangan lawan. Bukanlah kehendak aku untuk sebuah pengakuan dari kamu dan mereka, dalam segi-tiga yang selalu saling menyudutkan satu dengan yang lainnya. Dan bukanlah pembelaan dari aku yang telah tersudut, melainkan sebuah ketidak-berdayaan diri dari aku pada waktu. Yang menjadi akhir – Sekarang, adalah awal atau akhir dari perjalanan yang saling
membutuhkan di antara air pengetahuan, api cinta, angin nafas kehidupan dan tanah yang melahirkan, dalam suatu perbedaan dan persamaan di dalam waktu dan dimensi. Adalah hidup atau matinya suatu kehidupan. Adalah keputusan dari sebuah prophecy
tentang kebenaran atau kesalahannya dalam sejarah. Adalah yang memisahkan atau yang menyatukan suatu kebersamaan. Adalah yang menciptakan atau yang menghancurkan suatu ciptaan. Adalah salah satu pilihan dari dua pilihan yang saling berlawanan untuk diputuskan baik atau buruk dan benar atau salah.

Sekaranglah yang hanya dapat aku berikan untukmu dalam pikiran dan perasaan, dalam mendengarkan perasaan dan pikiran yang berkata dengan merasakan nafas-nafas yang berhembus bersama dentuman detak jantung di dalam gelapnya pikiran dan perasaan, hanya demi bayangan sebuah senyuman meski tetesan darah pengorbanan tak mampu menggantikan, dan hanya menambah air mata untuk meneteskan permohonan.

Kebebasanmu tidak dapat aku mohonkan untuk terima kasihku yang telah menjadi cermin dari diriku. Tanpa bayanganmu, aku tak bisa membayangkan diri aku tersenyum melihat keluarga dan saudaraku tersenyum, melihat teman dan sahabatku tersenyum, melihat
tanah kelahiranku tersenyum, melihat semua manusia tersenyum dan melihat bumiku tersenyum. Dan satu senyumpun dapat mendinginkan suhu api berkobar.

Sayap-sayap kebebasan telah kamu kepakkan sayapnya. Menyambut uluran tangan kehangatan malaikat waktu untuk meninggalkan kerinduan pada sebuah senyuman. Dan sebuah harapan yang menghias malam yang tertinggalkan dalam benar dan salah, dan bukanlah sebuah lebih.

Terpisahnya dirimu tidak merupakan terpisahnya namamu dari pikiran dan perasaan aku. Hanya waktu yang telah menjadikan semuanya bagi pikiran dan perasaan dalam kerinduan yang telah berlalu, sedang berlalu dan yang akan berlalu. Dan jika waktu sudah menarik kembali nafas-nafasmu yang telah memberikan kesetiaanmu terhadap dirinya dan diri-Nya. Pikiranmu yang melihat keberadaanku dan perasaanmu yang mengerti keadaanku, akan tetap kamu lihat penampakan dirimu dari mataku. Akan tetap aku dengarkan suara kata-katamu dari telingaku, akan tetap aku pikirkan keberadaanmu dalam pikiranku dan akan tetap kurasakan sentuhan-sentuhanmu dalam perasaanku. Meski engkau telah pergi, engkau akan tetap hidup dalam kehidupanku seperti hal-nya yang telah engkau alami semua tentangku – di mana engkau telah menjadi bagian dari aku, dan aku akan telah menjadi bagian dari engkau.

Hipotesis dari sebuah perenungan..

Dedicated to:
Dra. Rosita Elisabeth D. Tampubolon (1956 - 2006), Rest in Peace plz..

Confession Pt I

November 19th, 2006 by cybercrime-lovers

Hail, Hail,

huhhhhhhhhhhhhh…
ijinkan saiah mengambil nafas barang sejenak, sebelum memulai semuanya

Dalam beberapa bulan terakhir, ada satu pertanyaan yang terlalu sering harus saiah jawab
tanpa saiah tau apa motif dari masing² penanya tersebut..

“Man (itu akronim nama saiah), Siapa sih wanita yang kamuh inginkan saat ini?”

Heyy..have you ever heard bout dirty little thing called the damned P-R-I-V-A-C-Y ??
May I have it one?? Can i have it like that??
But It’s Okay..at least thnx for acting like you care..hmm, do you?
yahh..2b honest..semua pertanyaan bukan dengan template spt itu..tapi miripmiriplah..TRUST ME!!!
Heyyy..Dont you ever dare to think that im a faggot..just because im a singlefighter, it doesnt meant that im a GAY!!
Disaat seperti inilah resistensi dan eksistensi saiah diperlukan. bukan Hal yang mudah menjawab pertanyaan itu berulang kali!
Repetisi itu hanya akan membuat saiah semakin jengah dengan keaadan.

Jika mereka bertanya kepadaku tentang wanita, intuisiku dengan sigap akan memberikan sebuah retorika. Tanpa menyebut sebuah nama, saiah hanya mampu berkata: Hanya kepadanya jalan pikiranku terlabuh. Hanya untuk melihatnya, ujung dunia ini terbataskan. Hanya untuk senyumnya, usahaku melangkah. Hanya suaranya, telingaku ingin mendengarkan. Hanya untuk suka dukanya, mulutku tidak membisu. Hanya didekatnya, perasaanku menuntut. Dan demi hidupnya, matiku membayangi.

Tapi apa hanya untuk itukah Saiah mencari Cinta seorang wanita?

Rasioku lalu berargumen..Diamnya dirinya hanya rasa takutku terhadap kalian. Hanya melihat dirinya akan membuat buta mataku pada kalian. Hanya  mendengarkan kata-katanya akan membuat tuli telingaku pada kalian. Hanya membicarakan namanya akan membuat bisu mulutku pada kalian. Hanya meneladani tingkah lakunya akan membuat lumpuh kaki dan tanganku pada kalian. Dan hanya mempertahankan hidupnya akan mematikan kehidupanku pada kalian. Kedekatanku dengan kalian yang akan menjauhkanku pada pandangannya.

Rasio telah membuatku malu pada kejujuran

Saat ini aku hanya membutuhkan waktu. Teringat bahwa jika saiah menyakiti yang lain, saiah akan disakiti oleh yang lain.
Tapi, jika saiah mencintai seseorang, akahkah saiah dicintai oleh yang lain? Apakah saiah melakukan kesalahan
dengan mencintai? Logika cinta itu selalu monoton. Setiap kuberikan kebahagiaanku, akan kudapatkan kesedihanku. Suatu konstanta abadi dari sebuah kenyataan.

Jadi untuk apa aku berniat untuk bersedih ketika saiah masih merasa bahagia?

Oh My GOD !!!
Tampaknya Setan-setanku telah mengintimidasi pikiran saiah. Malaikatku diam karena malaikatku tak merasakan.
Pikirannya tidak pernah berontak karena malaikatku terus berpikir. Pikiran berontak karena perasaanlah yang telah merasakan. Dan setan hanya terus merasakan tanpa memikirkan. Dan saiah hanya manusia !!!
Saiah terus berpikir akan itu dan juga merasakan itu disaat yang sama..
Perhaps, all of my questions are answer to my sins

These thought still follow me..so save me!
I mean this..S A V E  M E !!!

beers for you,